Tidak Seorangpun Yang Benar

“Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah?” (Ayub 9:2)



Bacaan hari ini: Ayub 9:1-35 | Bacaan setahun: Ayub 9

Pasal 9 merupakan jawaban Ayub terhadap Bildad yang memintanya untuk menjaga sikapnya di hadapan Allah dan bertobat agar Allah memulihkan hidupnya. Bildad merasa Ayub terlalu berani dengan mempertanyakan kondisi hidupnya di hadapan Tuhan, seakan Ayub tidak bersalah dan Allah bertindak kurang adil terhadapnya (ps. 8). Dalam Ayub 7:20, Ayub sendiri mempertanyakan bahwa dosa sebesar apa yang diperbuatnya sehingga dirinya menjadi sasaran Allah. Namun, dalam bagian ini, Ayub menegaskan bahwa dia bukannya merasa diri benar di hadapan Allah sehingga menuduh Allah berbuat yang tidak adil terhadapnya. Justru sebaliknya, Ayub menegaskan bahwa sebenarnya siapakah manusia yang berani merasa dirinya benar di hadapan Allah? Namun, dia merindukan agar bisa membawa perkara hidupnya ini ke hadapan Allah. Seandainya ada penengah di antara Ayub dan Allah maka Ayub, tanpa rasa takut, dapat berbicara kepada Allah tentang kesulitan hidupnya saat itu (ay. 33-35).

Bacaan hari ini mengajar kita bahwa memang tidak seorangpun boleh menilai dirinya benar dan pantas berdiri di hadapan Allah untuk mempertanyakan kondisi kehidupannya kepada Allah. Seperti Ayub, kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan kesadaran akan keberdosaan kita, sehingga kita hanya bisa memohon belas kasihan-Nya. Akan tetapi, jangan kita lupa bahwa kita memiliki Penengah di antara kita dan Allah, yaitu Tuhan Yesus, Juruselamat kita. Dalam Dialah kita memiliki keberanian menghampiri takhta kasih karunia-Nya, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibrani 4:16). Oleh karena itu kita bisa datang kepada Tuhan dalam doa dan membawa pergumulan kehidupan kita, bukan sekadar untuk berkeluh kesah, tetapi menemukan kasih karunia Allah yang akan menolong kita. Dengan demikian, kita memperoleh kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi dan menjalani kesulitan itu, sehingga kita bisa berkata: ketika aku lemah maka aku kuat (2 Korintus 12:10).

STUDI PRIBADI: Jika tidak ada seorang pun yang benar di hadapan Allah, maka atas dasar apa kita berani datang ke hadapan-Nya untuk membawa pergumulan kehidupan kita?

Pokok Doa: Berdoalah bagi jemaat Tuhan agar dikuatkan walaupun sedang dalam kesulitan kehidupan yang tidak mudah dan belum menemukan jalan keluarnya. 

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *